PERUBAHAN MAKNA
2.1 Pendahuluan
Makna kata secara diakronis kemungkinan dapat berubah. Sebuah kata yang pada zaman dahulu bermakna A pada waktu sekarang dapat bermakna B, dan pada suatu waktu kelak mungkin bermakna C atau bahkan bermakna D. Contoh: kata berlayar dulu bermakna perjalanan di laut (air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar, sekarang bermakna semua tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan menggunakan kapal bertenaga mesin, bahkan juga dengan nuklir. Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut semua orang cendikiawan, sekarang dipakai untuk gelar universitas.
Persoalan sekarang, adalah mengapa makna kata itu dapat berubah, apa yang menyebabkan terjadinya perubahan itu, dan bagaimana wujud perubahan itu ?
2.2 Penyebab Perubahan Makna
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna pada sebuah kata. Abdul Chaer (1990: 136-145) menjelaskan bahwa faktor-faktor penyebab perubahan makna tersebut antara lain disebabkan oleh perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi, perkembangan sosial dan budaya, perbedaan bidang pemakaian, adanya asosiasi, pertukaran tanggapan indera, perbedaan tanggapan, adanya penyingkatan, dan pengembangan istilah.
2.2.1 Perkembangan dalam Bidang Ilmu dan Teknologi
Perubahan sebuah makna kata dapat disebabkan oleh perkembangan bidang ilmu dan teknologi. Sebuah kata yang asalnya mengandung konsep makna mengenai sesuatu yang sederhana tetap digunakan walaupun konsep makna yang terkandung telah berubah sebagai akibat dari pandangan baru atau teori baru dalam suatu bidang ilmu sebagai akibat perkembangan teknologi.
Sebagai akibat perkembangan bidang keilmuan, kata sastra yang pada awalnya bermakna tulisan atau buku, yang baik isi dan bahasanya berubah makna menjadi karya yang bersifat imajinatif kreatif. Contoh lain pada kata manuskrip yang pada mulanya berarti tulisan tangan sekarang kata tersebut masih digunakan untuk menyebut naskah yang akan dicetak walaupun hampir tidak ada lagi naskah yang ditulis tangan karena sudah ada mesin tulis.
2.2.2 Perkembangan Sosial Budaya
Perubahan makna dapat pula disebabkan oleh perkembangan dalam bidang sosial kemasyarakatan. Dalam hal ini hampir sama dengan apa yang terjadi sebagai akibat perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi. Sebuah kata yang asal mulanya bermakna A lalu berubah menjadi bermakna B atau C. Jadi, bentuk katanya tetap sama, tetapi konsep makna yang dikandungnya sudah berubah. Contoh kata sarjana dahulu menurut bahasa Jawa kuno berarti orang pandai atau cendikiawan, sekarang bermakna orang yang sudah lulus perguruan tinggi. Kata saudara dalam bahasa Sansekerta bermakna seperut atau sekandungan, sekarang digunakan untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang sama. Misalnya dalam kalimat “Kapan Saudara pulang dari Lampung?” atau kalimat “Surat Saudara sudah saya terima”.
Selain kata saudara hampir semua kata atau istilah kekerabatan seperti bapak, ibu, adik, kakak, dan nenek telah pula digunakan sebagai kata sapaan untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang pantas disebut adik atau kakak. Bahkan kata bapak atau ibu tidak hanya digunakan untuk menyebut atau menyapa orang yang menurut usianya pantas disebut bapak atau ibu, tetapi juga menyebut atau menyapa orang mempunyai kedudukan atau status sosial yang lebih tinggi, walaupun usianya jauh lebih muda daripada orang yang menyapanya.
2.2.3 Perkembangan bidang Pemakaian
Misalnya, dalam bidang pertanian dikenal kata-kata benih, menuai, panen, menggarap, membajak, menabur, menanan pupuk, dan hama. Dalam bidang pendidikan formal di sekolah ada kata-kata murid, guru, ujiian, menyalin, menyontek, membaca, menulis dan menghapal. Dalam bidang agama Islam dikenal kata-kata puasa, khotib, azan, mengaji, ustad, dan infak. Dalam bidang pelayaran ada kata-kata sauh, berlabuh, haluan, buritan, nahkoda, pelabuhan, dan juru mudi.
Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang tertentu itu dalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat diambil darii bidangnya dan diguanakan dalam bidang lain atau menjadi kosa kata umum. Oleh karena itu, kata-kata tersebut menjadi makna baru atau makna lain di samping makna asalnya. Misalnya, kata menyerap yang berasal dari bidang pertanian (dengan segala derivasinya), seperti dalam frase menggarap sawah, tanah garapan, dan petani garapan, sekarang banyak digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna mengerjakan seperti tampak dalam frase menggarap skripsi, menggarap usul kenaikan pangkat, menggarap laporan penelitian, menggarap tesis dan menggarap disertasi.
Berdasarkan contoh-contoh di atas, jelaslah bahwa karena kata-kata itu digunakan dalam bidang lain, maka kata-kata itu jadi mempunyai arti lain yang tidak sama dengan arti dalam bidang asli. Akan tetapi, perlu diingat bahwa makna baru kata-kata tersebut masih ada kaitannya dengan makna asli yang digunakan dalam bidang asalnya. Kata-kata tersebut digunakan dalam bidang lain secara metaforis atau secara perbandingan. Kata menggarap dalam frase menggarap lapoan penelitian digunakan secara metaforis, sedangkan menggarap dalam frase menggarap sawah digunakan bukan secara metaforis.
2.2.4 Adanya Asosiasi
Perubahan makna dapat terjadi karenna adanya persamaan sifat. Makna baru yang muncul berkaitan dengan hal atau peristiwa yang lain yang berkenaan dengan kata tersebut. Kata amplop yang berasal dari bidang administrasi atau sura-menyurat, makna asalnya adalah “sampul surat”. Ke dalam amplop itu selain bisa dimasukkan surat, dapat juga dimasukkan benda lain, misalnya uang. Misalnya dalam kalimat “Beri dia amplop supaya urusa cepat beres” kata amplop dalam kalimat tersebut bermakna “uang” sebab kata amplop yang dimaksud bukan berisi surat, melainkan berisi uang sebagai sogokan.
Asosiasi antara amplop dengan uang berkenaan dengan wadah. Yang disebut dengan wadahnya yaitu amplop, tetapi yang dimaksud adalah isinya yaitu uang. Selain asosiasi yang berkenaan dengan wadah ada pula asosiasi yang berkenaan dengan waktu. Misalnya, perayaan 17 Agustus maksudnya tentu perayaan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia karena proklamasi tersebut terjadi pada tanggal 17 Agustus, Jadi, yang disbut waktunya, padahal yang dimaksud peristiwanya.
Asosiasi yang lain yaitu asosiasi yang berkenaan dengan tempat. Yang dimaksud nama tempat, tetapi yang dimaksud hal lain yang berkenaan dengan tempat itu. Misalnya peristiwa Madiun, tentu saja yang dimaksud adalah peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 di Madiun.
2.2.5 Pertukaran Tanggapan Indera
Sebenarnya alat indera sudah mempunyai tugas masing-masing untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini.Misalnya rasa panas, dingin, dan sejuk harus ditanggap oleh indera perasa pada kulit. Akan tetapi, dalam penggunaan bahasa Indonesia banyak terjadi kasusu pertukaran tanggapan antara indera yang satu dengan indera yang lain. Misalnya rasa pedas yang seharusnya ditanggap dengan alat indera perasa pada lidah tertukar menjadi ditanggap oleh alat indera pendengaran seperti tampak dalam ujaran “kata-katanya sangat pedas”.
Perubahan makna yang disebabkan oleh pertukaran tanggapan indera disebut dengan istilah sinestesia. Istilah ini berasal dari Yunani sun artinya “sama” dan aisthetikas artinya “nampak”.
2.2.6 Perbedaan Tanggapan
Setiap unsur leksikal atau kata sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna leksikal yang tetap. Namun, karena pandangan-pandangan hidup dan ukuran dalam norma kehidupan dalam masyarakat, maka banyak kata yang memiliki nilai rasa rendah atau kurang menyenangkan, di samping ada juga yang memliki rasa yang tinggi atau mengenakkan. Kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah disebut peyoratif, sedangkan yang nilainya menjadi tinggi disebut amelioratif. Kata bini sekarang dianggap peyoratif, sedangkan kata isteri dianggap amelioratif. Kata beranak sekarang dianggap pyoratif, sedangkan kata melahirkan dianggap amelioratif.
Nilai rasa peyoratif dan amelioratif sebuah kata tidak bersifat tetap. Nilai rasa itu kemungkinan besar hanya bersifat sinkronis. Secara sinkronis ada kemungkinan dapat berubah. Contoh kata jamban dulu dianggap peyoratif. Oleh karena itu, banyak orang tidak mau menggunakannya dan menggantikannya dengan kata kakus atau WC. Akan tetapi, dewasa ini kata jamban telah kehilangan sifat peyoratifnya karena pemerintah DKI secara resmi menggunakan kata itu sebagai istilah baku dalam frase jamban keluarga.
2.2.7 Adanya Penyingkatan
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang sering digunakan, maka tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Misalnya, dalam kalimat “Ayahnya meninggal” tentu maksudnya meninggal dunia. Jadi, kata meninggal adalah bentuk singkat dari ungkapan meninggal dunia.
Contoh lain:
- berpulang maksudnya berpulang ke rahmatullah
- perpus maksudnya perpustakaan
- AMD maksudnya Abri Masuk Desa
Apabila kita perhatikan, dalam kasus penyingkatan ini bukanlah peristiwa perubanhan makna yang terjadi sebab makna atau konsep itu tetap, yang terjadi adalah perubahan bentuk kata. Kata yang semula panjang (utuh) disingkat menjadi bentuk tidak utuh, yang pendek.
2.2.8 Pengembangan Istilah
Salah satu upaya dalam pengembangan atau pembentukan istilah baru adalah dengan memanfaatkan kosa kata bahasa Indonesia yang ada dengan jalan memberi makna baru, dengan menyempitkan, mekluaskan, maupun memberi arti baru sama sekali. Misalnya, kata papan semula bermakna “lempengan kayu (besi, dan sebagainya) tipis”, sekarang diangkat menjadi istilah untuk makna perumahan. Kata sandang yang asal mulanya bermakna “selendang”, sekarang diangkat menjadi istilah untuk makna pakaian.
2.3 Jenis Perubahan Makna
Dalam pertumbuhan bahasa, makna suatu kata dapat mengalami perubahan. Perubahan makna itu dapat dilihat dari berbagai jenis. Di antara berbagai jenis peristiwa perubahan makna itu yang penting adalah perubahan makna meluas, menyempit, amelioratif, peyoratif, perubahan total, penghalusan, penasaran, asosiasi, dan sinestesia.
2.3.1 Meluas
Yang dimaksud dengan perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna, tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Contoh kata berlayar dulu dipakai dengan pengertian bergerak (perjalanan) di laut dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga tenaga layar, sekarang bermakna sebuah tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan menggunakan kapal bertenaga mesin, bahkan juga tenaga nuklir.
Proses perluasan makna dapat terjadi dalam kurun waktu yang relatif singkat, tetpai juga dapat dalam jangka waktu yang panjang. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah bahwa makna-makna lain yang terjadi sebagai hasil perluasan itu masih berada dalam lingkup poliseminya. Jadi, makna-makna itu masih ada hubunganannya dengan makna asalnya.
2.3.2 menyempit
Yang dimaksud dengan perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah terbatas hanya pada sebuah makna saja. Atau dengan kata lain, cakupan makna yang dulu lebih luas daripada makna sekarang. Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut semua orang cendikiawan atau orang pandai, sekarang hanya berarti orang yang lulus dari perguruan tinggi (universitas). Betapa pun pandainya seseorang kalau bukan lulusan perguruan tinggi tidak dapat disebut sarjana. Sebaliknya, betapa pun rendahnya prestasi seseorang apabila sudah lulus perguruan tinggi disebut sarjana.
2.3.3 Amelioratif
Yang dimaksud dengan perubahan makna amelioratif adalah suatu proses perubahan makna, yang pada mulanya memliki makna lebih rendah daripada makna sekarang. Atau dengan kata lain makna baru lebih tinggi atau lebih baik daripada makna dahulu. Misalnya kata wanita, sekarang maknanya dirasakan lebih tinggi daripada kata perempuan. Kata isteri dan nyonya maknanya lebiih tinggi daripada kata bini. Kata suami maknanya lebih tinggi daripada kata laki.
2.3.4 Peyoratif
Peyoratif adalah perubahan makna yang mengakibatkan sebuah kata atau ungkapan menggambarkan sesuatu yang kurang baik, kurang enak, kurang menyenangkan, atau kurang bermutu dibandingkan dengan makna semula (dulu). Dalam peyoratif makna baru dirasakan lebih rendah nilainya daripada makna yang lama. Misalnya, kata tuli mengalami peyorasi dulu tidak dirasakan mengandung makna yang jelek, sekarang maknanya dirasakan kurang baik, kurang sopan, dan terasa kasar. Ungkapan kaki tangan dulu dipakai dalam arti yang baik yaitu “pembantu”, sekarang dipakai dalam arti yang kurang baik, yaitu “pembantu dalam kejahatan atau pembantu pihak yang tidak disukai”, seperti tampak dalam kaki tangan musuh, kaki tangan imperialis.
2.3.5 Perubahan Total
Yang dimaksud dengan perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Walaupun makna yang dimiliki sekarang masih ada sangkut pautnya dengan makna asalnya, tetapi sangkut pautnya sudah jauh sekali. Misalnya, kata ceramah pada mulanya berarti “cerewet” atau “banyak cakap”, tetapi sekarang berarti “pidato” atau uraian mengenai suatu hal yang disampaikan di depan orang banyak.
2.3.6 Penghalusan (Eufemia)
Perubahan makna penghalusan ini adalah gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna yang lebih halus atau lebih sopan daripada kata-kata yang digantikannya. Misalnya, frasa pembantu rumah tangga menggantikan kata babu bahkan sekarang diganti dengan pramuwisma.
2.3.7 Pengasaran (Disfemia)
Pengasaran (disfemia) yaitu usaha untuk menggantikan kata yang maknanya halus atau makna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Usaha atau gejala pengasaran ini biasa dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau menunjukkan kejengkelan. Misalnya, ungkapan masuk kotak dipakai untuk menggantikan kata kalah. Kata mencaplok dipakai untuk mengganti megambil begitu saja. Kata mendepak dipakai untuk mengganti kata mengeluarkan.
2.3.8 Asosiasi
Asosiasi yaitu perubahan makna yang terjadi karena adanya persamaan sifat sehingga suatu kata atau istilah dapat dipakai untuk pengertian yang lain. Misalnya, kata lintah darat dipakai untuk menyebut nama orang yang sifatnya seperti lintah, yaitu yang menghisap harta benda orang lain. Kata biang keladi dipakai untuk menyebut orang yang menjadi penyebab atau pemimpin suatu perbuatan jahat. Kata benalu digunakan untuk orang yang mempunyai sifat seperti benalu, yaitu yang selalu ikut menumpang pada keluarga yang lain secara cuma-cuma.
2.3.9 Sinestesia
Sinestesia berasal dari bahasa Yunani sun artinya “sama” dan aisthetikas artinya “nampak”. Perubahan makna akibat adanya kecenderungan untuk mengubah tanggapan dengan tujuan untuk menegaskan maksud disebut sinestesia. Atau dengan kata lain, sinenstesia adalah pertukaran tanggapan anatar indera yang satu dengan indera lainnya. Misalnya, rasa pedas yang seharusnya ditanggap dengan alat indera perasa pada lidah tertukar menjadi ditanggap oleh alat indera pendengaran seperti tampak dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar